Loading...
10 September 2026 | Berita

Guru Maluku Utara Dipersiapkan Jadi Fasilitator Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial

TERNATE — Upaya memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah terus diarahkan pada peningkatan kapasitas guru. Di Maluku Utara, sebanyak 24 guru SMP mengikuti Training of Trainer (ToT) Fasilitator Kelompok Kerja (FKK) Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial Tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Batik, Ternate, pada 8–10 September 2026.

Kegiatan ini tidak berhenti pada penguasaan materi. Para guru dipersiapkan untuk menjadi fasilitator yang nantinya dapat membawa pengetahuan dan keterampilan tersebut kembali ke kelompok kerja guru di wilayah masing-masing.

Komposisi peserta terdiri atas 14 guru Matematika dan 10 guru Bahasa Indonesia dari jenjang SMP. Mereka tidak hanya dituntut memahami konsep Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial, tetapi juga dipersiapkan memiliki kemampuan untuk mendampingi guru lain dalam menerapkan pembelajaran tersebut.

Kepala Kantor GTK Provinsi Maluku Utara, Rachmat Im Abd. Karim, S.Kom., membuka kegiatan tersebut secara langsung. Dalam pelatihan, calon fasilitator mendapatkan pembekalan konseptual sekaligus keterampilan memfasilitasi pembelajaran bagi orang dewasa atau andragogi. Pendekatan yang digunakan antara lain Teacher Experimental Training (TET).

Dari pelatihan guru menuju perubahan di ruang kelas

Ada satu hal yang membuat kegiatan ini penting: hasil pelatihan tidak berhenti di ruang pertemuan.

Tujuan kegiatan adalah memperdalam pemahaman guru mengenai Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial, sekaligus membangun kemampuan mereka dalam merancang dan mengelola pendampingan bagi guru di kelompok kerja.

Artinya, 24 peserta tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari mata rantai peningkatan kompetensi guru. Setelah menyelesaikan pelatihan secara luring, mereka akan melakukan rencana tindak lanjut dengan memfasilitasi kelompok kerja di wilayah masing-masing.

Pola semacam ini memiliki arti penting bagi sekolah. Pengetahuan baru mengenai teknologi dan pendekatan pembelajaran akan lebih bermakna apabila dapat diterjemahkan menjadi praktik yang bisa digunakan guru dalam menghadapi kebutuhan nyata siswa.

Bagi guru, manfaatnya bukan sekadar mengenal istilah kecerdasan artifisial atau koding, melainkan memahami bagaimana pengetahuan tersebut dapat difasilitasi, dipelajari, dan dikembangkan bersama rekan sejawat.

Bagi siswa, dampak akhirnya diharapkan hadir di ruang kelas: pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan mendorong siswa untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, dan menggunakannya.

Guru sebagai penggerak perubahan

Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada teknologi. Kualitas guru tetap menjadi salah satu kunci utama. Karena itu, kemampuan fasilitasi menjadi bagian penting dalam pelatihan. Guru yang menguasai materi tetapi tidak mampu membagikan pengetahuan kepada rekan sejawat akan memiliki dampak yang lebih terbatas. Sebaliknya, guru yang mampu menjadi fasilitator dapat membantu memperluas manfaat pelatihan kepada komunitas pendidikan yang lebih besar.

Dalam kegiatan ini, fasilitator yang terlibat adalah Lanny H. Tonoro dari SMPN 1 Halmahera Utara dan Yulianti dari SMPN 1 Halmahera Selatan. Panitia kegiatan terdiri atas empat orang, dengan Wilsa Dieastuty Salim, S.Psi., M.Pd. sebagai penanggung jawab dan Muh. Rizal Mattawang, S.Pd. sebagai ketua panitia sekaligus admin LMS, bersama Irda Sani Yunus, S.Pd., M.Pd. dan Fikram Rahman sebagai anggota.

Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan tidak semata-mata diukur dari berapa banyak guru yang hadir atau berapa banyak materi yang disampaikan. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pelatihan selesai.

Jika para fasilitator mampu membawa pengetahuan tersebut ke kelompok kerja, membantu guru lain memahami pendekatan pembelajaran baru, dan kemudian menerapkannya secara tepat di sekolah, maka manfaatnya dapat bergerak lebih jauh—dari satu pelatihan ke banyak guru, dari guru ke ruang kelas, dan dari ruang kelas kepada siswa.

Di titik itulah pelatihan guru menemukan maknanya: bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membangun kemampuan yang dapat diteruskan dan memberi manfaat lebih luas bagi ekosistem pendidikan di Maluku Utara.


Kantor GTK Maluku Utara 2025