
Pelatihan Calon Fasilitator Daerah STEM menyiapkan guru menjadi penggerak pembelajaran inovatif yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful.
Ternate, Maluku Utara — Teknologi dan rekayasa tidak selalu lahir dari laboratorium canggih. Ia dapat ditemukan di sekitar kita—di lingkungan tempat tinggal, di alam, dalam benda-benda sederhana, bahkan dalam kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di setiap daerah.
Pesan inilah yang mengemuka dalam Pelatihan Calon Fasilitator Daerah (Fasda) STEM bagi Guru Jenjang SMA/SMK Provinsi Maluku Utara Tahun 2026, yang dilaksanakan pada 12–15 Oktober 2026 di Muara Hotel.
Sebanyak 15 pendidik dari lima sekolah model mengikuti kegiatan ini. Peserta berasal dari tiga sekolah di Kota Ternate dan dua sekolah dari Kabupaten Halmahera Utara. Mereka hadir dalam tim yang terdiri atas guru IPA, guru Matematika, dan guru non-MIPA, sehingga sejak awal pelatihan telah dibangun semangat kolaborasi lintas disiplin.
Selain peserta, kegiatan juga diikuti dan didampingi oleh empat Fasilitator Nasional (Fasnas) sebagai pengajar, empat orang panitia, serta Kepala Kantor GTK Provinsi Maluku Utara.
STEM Tidak Harus Mahal


Pelatihan ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran yang mampu membekali murid dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
Pendekatan Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) menjadi salah satu pendekatan yang dapat mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu melalui persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Namun, STEM tidak harus selalu identik dengan perangkat teknologi mahal atau laboratorium dengan peralatan canggih.
Dalam arahannya saat membuka kegiatan, Kepala Kantor GTK Provinsi Maluku Utara menegaskan pentingnya menghadirkan STEM yang 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
Teknologi dan rekayasa, menurut semangat yang ditekankan dalam pelatihan, tidak harus dicari jauh-jauh di laboratorium canggih. Teknologi dan rekayasa ada di sekitar kita. Ia hidup dalam lingkungan dan kearifan lokal yang berbeda-beda di setiap daerah.
Apa yang bagi satu daerah terlihat sederhana, bisa menjadi sumber inspirasi pembelajaran STEM. Bahan alam yang tersedia, benda yang sudah tidak terpakai, cara masyarakat menyelesaikan persoalan sehari-hari, hingga berbagai bentuk kearifan lokal dapat menjadi bahan untuk mengamati, bertanya, mencoba, merancang, dan menemukan solusi.
Dengan demikian, keterbatasan sarana bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Dari Kearifan Lokal Menuju Pembelajaran Bermakna
Maluku Utara dengan kekayaan alam dan keberagaman budaya memiliki ruang yang sangat luas untuk mengembangkan pembelajaran STEM berbasis konteks lokal.
Guru dapat mengajak murid melihat persoalan yang ada di lingkungan mereka sendiri. Dari sana, murid dapat diajak mengidentifikasi masalah, mengembangkan ide, mencoba berbagai kemungkinan, melakukan perbaikan, hingga menghasilkan solusi.
Proses tersebut membuat STEM tidak berhenti sebagai teori, tetapi hadir sebagai pengalaman belajar yang nyata.
Teknologi dan rekayasa menjadi lebih dekat ketika murid menyadari bahwa apa yang mereka pelajari sebenarnya ada di sekitar mereka.
Empat Hari Belajar dan Berkolaborasi
Sejak registrasi pada 12 Oktober 2026 pukul 14.00 WIT, kegiatan berlangsung dalam suasana yang santai dan nyaman. Pembukaan dimulai pukul 15.00 WIT, dilanjutkan dengan laporan penanggung jawab kegiatan serta arahan sekaligus pembukaan oleh Kepala Kantor GTK Provinsi Maluku Utara.

Setelah pembukaan, peserta mengikuti rangkaian pelatihan selama empat hari dengan pendampingan empat Fasnas.
Suasana pelatihan berlangsung aktif. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi, tetapi terlibat dalam diskusi, praktik, presentasi, refleksi, dan pemberian umpan balik.
Berbagai praktik baik muncul dari pengalaman peserta. Setiap tim memiliki cara pandang dan gagasan yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan karena peserta dapat saling belajar dan memberikan masukan untuk menyempurnakan kegiatan yang dirancang.
Hal ini membuat pelatihan terasa hidup dan jauh dari kesan monoton.
Calon Fasda, Calon Penggerak STEM
Pelatihan ini tidak berhenti pada peningkatan kompetensi 15 peserta. Mereka dipersiapkan sebagai Calon Fasilitator Daerah yang nantinya memiliki tugas penting untuk mengimbaskan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh kepada guru-guru lainnya.
Dengan demikian, pelatihan menjadi bagian dari proses membangun jejaring komunitas pendidik yang mampu mengembangkan pembelajaran STEM secara berkelanjutan di satuan pendidikan.
Peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang materi, tetapi juga membawa cara berpikir baru: bahwa pembelajaran inovatif dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, dekat, dan tersedia di lingkungan sekitar.
Bukan Akhir, tetapi Awal
Empat hari berlalu dalam suasana yang tetap penuh semangat. Keaktifan peserta, beragam praktik baik, serta budaya saling memberikan masukan menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan.
Pada 15 Oktober 2026, pelatihan resmi ditutup oleh Kepala Kantor GTK Provinsi Maluku Utara.
Penutupan bukan menjadi akhir perjalanan, melainkan awal dari peran baru para peserta sebagai calon Fasda STEM.
Dari Muara Hotel, mereka membawa satu pesan yang sederhana namun kuat:
“Teknologi dan rekayasa tidak selalu membutuhkan laboratorium canggih. Ia ada di sekitar kita, tumbuh dari lingkungan, dan hadir dalam kearifan lokal yang berbeda di setiap daerah.”
Dari bahan sederhana.
Dari lingkungan sekitar.
Dari kearifan lokal.
Dari kreativitas guru.
STEM dapat dimulai. Dan ketika pembelajaran dibuat mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful, teknologi dan rekayasa tidak lagi terasa jauh—tetapi menjadi bagian dari kehidupan murid sehari-hari.
